Ahlan wa sahlan

Assalamualaikum!

Selamat datang,
selamat singgah dan menjengah;
moga daripada secebis waktu, bermanfaat untuk semua!

Menunggu Teduh(i)

Khamis, 19 Ogos 2010


Kita masing-masing punya hari sendiri. Bukan?
Ada punya mentari bersinar segar,
mungkin pelangi menyapa ceria.
Mungkin elus sepoi lembut angin.
Kita punya hari sendiri,
yang sendiri kita syukurkan.

Mereka lagi bertanya mana kami.
Mana hilang atau telah gugur?
Mana pergi atau telah jauh?
Mungkin sesat langkahnya.
-jawabnya aku manusia,
bukan malaikat seperti kalian.

-jawabnya ada hari ribut melanda.
Ketika ada hujan lebat berkunjung.
Aku sejenak mengambil jeda,
berteduh dalam sela.
Tidak aku berhenti,
atau jauh berlari.
Cuma menunggu teduh.

Kami dalam pertarungan seru,
yang menukilkan takdir
-pertarungan yang taruhannya waras dan iman.
dalam meletakkan langkah-langkah.

Kami menunggu teduh,
dalam menanti reda -segala ribut taufan-
dan mengubatkan kelukaan
-parut-parut lama, juga darah-darah baru.

Kami menunggu teduh,
-bukan bermain-main seperti sangkaan kalian.
kerana aku lagi manusia.

Kami menunggu teduh,
juga menyusun cebisan-cebisan diri
yang jenuh dijamah masa,
(oleh sebab jamahan itu)sehingga dapat disoal
tentang kewarasan fakulti kognitif ini.

Kami menunggu teduh,
menghela dalam sela.
Menunggu mentari kembali,
agar bisa kuangkat pedang zikir lagi.

Maka, kita punya hari bukan?
Itu untuk kita syukurkan.

Kalian(malaikat-malaikat),
aku cuma menunggu teduh.

-untuk yg memahami, yg sudi mengerti-
Nadim Muhammad
Kangar,Perlis

0 ulasan: