Ahlan wa sahlan

Assalamualaikum!

Selamat datang,
selamat singgah dan menjengah;
moga daripada secebis waktu, bermanfaat untuk semua!

Titah Sultan

Rabu, 16 Januari 2008

Dan segala salam; sejahtera atas Sang Gagak, telah pawana itu membisik sepi rintihan.

Gagak sekadar biasa-biasa;
tidak seindah merak idaman,
tidak secantik angsa igauan.

Juga siulan tidak semerdu,
seiring irama tiung;
bicara madah tidak sepetah,
setanding pidato murai.
****
Dalam hujan, gagak sendiri,
berbisik membisik sayu;
sepi ini, mana akhirnya,
sunyi ini, mana hujungnya,
rindu ini, mana ubatnya,
cinta ini, mana kasihnya.”*

Jua, sayup rintih itu tertafsir dek Sultan tatkala baginda lewat belantara mimpi. Maka atas itu, ada titah-titah dijunjung; buat tenungan, renungan.

Wahai Sang Gagak,
Ingin beta ungkapkan; meski tidak seindah merak, sesungguhnya ALLAH itu terlalu adilNya. Atas firmanNya Al Furqan, ayat 2 beta memetik; “Tuhan yang menguasai pemerintahan langit dan bumi dan yang tidak mempunyai anak, serta tidak mempunyai sebarang sekutu dalam pemerintahanNya dan Dialah yang menciptakan tiap-tiap sesuatu lalu menentukan keadaan makhluk-makhluk itu dengan ketentuan takdir yang sempurna.” Maka atas itu, tiap ciptaan itu punya hikmah; telah diciptakan atas kita itu yang terbaik. Maha Suci ALLAH yang mengetahui apa yang terbaik, atas dan untuk hambaNya; meski sering kali terlepas dek pandangan, jarang-jarang disyukuri. Telah sempurna takdir dan aturan tiap hambaNya; maka atas apa yang berlaku itu, hadapi dengan senyuman. Sesuatu yang terlalu sempurna itu, belum tentunya terbaik untuk diri. Ada pun yang sederhana itu memadai; tidak terlalu-lalu kurang, jua tidak pula melintasi sempadan. Atas ungkap srikandi, “Tiada keindahan itu, tiap atas kesempurnaan.”

Dan beta temukan dalam hidup, hakikat bahawa pesona rupa itu sekadar mainan masa; satu fatamorgana. Seindah zahir, tetap-tetap akan hilang bersama waktu berlalu; tiap bunga itu akan layu, tiap kilau meski karat. Bahawa sesungguhnya, tiada mungkin tentu kebahagiaan itu bisa dijamin, andai kita punya sesuatu yang benar-benar sempurna wajah semata; dan terabai segala yang lain. Dalam keindahan itu biar atas satu imbangan; seimbang. Atas tiap yang indah akhlak, elok budi dan pekerti, satu keikhlasan dan kejujuran hati serta manis tutur bicara itu, meski sekadar sejuk mata memandang, dipandang; lebih baik daripada segala yang tercantik andai cantik itu tidak pada personaliti dan diri. Keindahan dalaman itu tetap-tetap kekal, meski masa terus-terus berlalu; memamah ilusi fatamorgana. Andai atas sesuatu itu terlalu-lalu bersandar pada molek wajah, tatkala kemanisan itu hilang, segalanya akan berubah.

Tidakkah terfikir, bahawa meski hitam itu adakalanya dipandang manusia serong, tersingkap rahmat ALLAH yang Maha Bijaksana? Gagak, mengertikah engkau, ukuran pada kasih itu tidak sekadar pesona wajah. Mungkin dalam hitam ini, untuk kamu disediakan yang benar-benar untuk kamu. Yang benar-benar reda atas seadanya; benar-benar sudi memahami dan mengerti, lantas menerima dan menghargai. Yang setia dan bersedia untuk berkongsi segala macam pahit dan manis tatkala melangkah meneroka, menjelajahi hidup dan kehidupan.Kekadang dalam tiap kekurangan itu menjadi kelebihan jua ada tatkala kelebihan itu bisa menjadi kekurangan. Atas aturanNya, mungkin tiba suatu masa nanti, akan ditemukan yang ditakdirkan, yang ditetapkan. Maka usah bersedih dan berduka; pilu dan merana. Tidak atas sesuatu itu sia-sia.

Dan cukuplah beta menitip titah; secebis pesan-pesanan dek lapang yang terluang. Gagak, telah ALLAH tentukan apa yang terbaik; atas yang telah, sedang dan akan berlaku. Cukup sebagai hamba, kita memenerima dengan setenang, sesenang hati dan dada yang paling lapang. Akhir madah, secebis pesan srikandi buat renungan : ada tika ALLAH hijabkan mentari; diganti hujan, kilat serta petir; atas khilaf kita bertanya, tertanya, “TuhanKu, manakan mentari itu? Atas sinar dan hangatnya dirindui”; atas agung kasihNya, ALLAH hadiahkan pelangi, betapa indahnya, meski terkadang itu sendiri kita tidak pernah terfikir dan tertafsir. Semoga selamat selalu hendaknya, wahai Gagak!

-untuk yg memahami-
Nadim Muhammad
December 12, 2007; 5.02 am
*Sajak Sepi Sang Gagak, Tinta Nadim Muhammad 23 Ogos 2007

0 ulasan: